Surat Jingga Untuk Pelangi

Hai, gadis mudaku yang anggun. Kau masih memberikan tempat untukku menyapamu bukan? Kuharap masih. Karena kau pun tak pernah ku pindahkan dari sini. Singgahsana hati, dinda!. Jika kau membaca surat ini, mungkin aku telah tiada di dunia yang indah ini. Aku telah bebas dari segala macam gelap yang sering kuhadapi dan selalu aku keluhkan dulu kepadamu. Tapi kau benar – benar pelangiku, Putri. Pelangi yang memberi secercah warna – warna bias usai hujan turun. Kau yang mengubah kelabu hidupku menjadi lebih berwarna. Terima kasih Putri. Kau pasti bertanya – tanya apa maksudku menulis surat ini untukmu. Ini adalah salah satu dari 7 surat yang kutulis untuk menyampaikan apa yang belum sempat aku sampaikan saat aku masih diberikan anugerah udara dan kemegahan kebebasan yang sempurna. Kau yang kutuju pertama kali, Putri! Sedikit kuceritakan agar kau mengerti. Setelah lulus SMP saat itu aku kembali menemukan gelapku terlebih saat kenyataan kita harus berpisah. Aku harus pergi ke Makasar bersama keluargaku dan hidup disana tanpa kau sebagai sandaran warnaku lagi, Putri. Aku benar – benar kacau. Pertengkaran orang tuaku di rumah semakin hari semakin menjadi. Belum lagi beberapa bulan kemudia perusahaan ayahku dihadapkan masalah dan kemudian perlahan bangkrut. Sekolahku terbengkalai, Put. Aku tak tega melihat ibuku menjadi gila akibat kebangkrutan ayahku itu. Belum lagi kelakuan kakak laki – lakiku satu – satunya yang selalu pulang malam dan membawa gadis - gadisnya kerumah. Aku tak tahan, Put! Aku merasa dunia ini semakin kelam, mencekam, memaksaku hendak pergi! Aku ingin berlari, tapi apa daya? Suatu ketika, salah satu temanku menawarkanku sebuah benda, Put! Sebuah benda yang tak kukenal bentuknya, namanya pun asing bagiku. Tapi temanku membujukku mengonsumsi benda tersebut. Katanya mampu meredakan semua permasalahan kehidupan. Tanpa berpikir panjang, aku akhirnya mencobanya, meski aku tak pernah tahu benda apa itu. Sekali kucoba, dan ternyata benar! Aku menjadi tenang dan damai. Aku bagaikan terbang di langit senja ketika angin mencoba membuaiku menikmati hidup. Tapi aku tak menyangka, benda tersebut membuatku ketergantungan setiap harinya. Sehingga aku berusaha terus mencarinya walau mengorbankan harta orang tuaku yang tersisa dirumah untuk ditukarkan dengan benda tersebut. Efeknya benar – benar membuai, Put! Tapi semakin hari aku tak kuat menahan sakit luar biasa yang menyerangku jika sehari saja aku tak mengonsumsi benda tersebut. BENDA NERAKA! Rupanya dia membunuhku secara perlahan, Put! Aku kadang merasa mati rasa saat benda tersebut menggiggiti seluruh system di dalam tubuhku, sehingga benda – benda tajam seperti pisau pun tak terasa sakit saat aku menggores – goreskannya ke lenganku. Bahkan saat sakitnya memuncak, tak sadar aku menggigit jari – jari tanganku hingga berdarah agar meredakan sakitnya, Put! Menyiksa, sangat menyiksa. Kadang aku bercermin dan melihat keadaanku. Tak layak lagi. Sungguh tak layak lagi untuk hidup, Put! Maka itu, aku memilih menyudahi semua ini. Aku bahkan tak berpikir lagi tentang keadaan ibuku di yang sedang gila dirumah, ayahku yang masih depresi akibat bangkrut dan kakak laki-lakiku itu yang dengan kelakuannya yang bejat. Namun sebelum aku melahap semua benda – benda tersebut sekaligus, surat – surat ini akan ku sampaikan kepada 7 warna yang sempat mewarnai hidupku dulu. Salah satunya kau Putri. Warna jingga yang indah di sisi kehidupanku yang kelam. Yang enggan berhenti mewarnai kanvas putihku dulu. Kau terkenang di sini, Put! Di hati. Jangan kau sia – siakan air matamu itu membasahi suratku ini. Karena kau jingga pelangi yang sempurna dan tak layak menangis untuk gemuruh kelam semacamku. Terimakasih Putri. Dan maaf jika inilah akhir jalan pilihanku. Selamat tinggal. Semoga kita bertemu di Surga bersama warnamu yang masih terang di suatu singgahsana… Salam Gemuruh Kelammu *karangan fiksi*

Another Templates

My Cat

My Cat