Awan... Teduh!

Aku tak pernah menyangka jika masa menempatkanku pada suatu cerita. Cerita gelap, dan bayang – bayang samar yang ada. Aku dengan seberkas malam mulai mencoba menjajaki pagi. Bahkan terbelalak mataku menunggu hingga senja. Tapi ini nyata! Sepertinya aku melihat sosok awan disana. Teduh… Suatu pertemuan yang tak terduga memaksa kita untuk saling menetapkan hati. Ada yang berbeda katamu! Saat pertama kali bertatap, disitulah pertama kali belati seperti mengenai sedikit bagian sisi dimana itu peka. Sangaat peka. Aku tak menyalahkan itu, mungkin karena aku masih terbuai rayuan malam. Tapi, awan kau masih terbawa angin. Entah sampai dimana kau berhenti dan mencoba mendalami asa. Dan kau pun harus tahu, aku tak pernah berpikir sedikitpun berkasih dengan awan. Aku kian asik dengan malam dahulu. Walaupun hakikatnya aku masih berharap mampu bersanding dengan mentari. Tapi itu tak mungkin!. Lalu sampai mana tadi? Oh iya sampai pada ketidaksengajaan, Awan! Ada masa – masa dimana kita satu cerita dan satu rasa yang tak pernah kita sadari. Dalam diam kau meneduhkan. Dan dalam kata aku menerangi. Mungkin itu bukan? Sepertinya ada yang berbisik di malam itu. Kau mulai bersikap nyata terhadap keadaan. Kau mulai berbeda! Kau memenuhi setiap kesilauan yang tiba kepadaku. Entah apa maksudmu? Kuharap kau kekal, Awan! Meneduhkan dalam diam. Dan kuharap kau membelalak mata hingga tak tersesat jalan. Aku hanya memiliki lilin ini! Ini untukmu. *karangan nonfiksi*

Surat Jingga Untuk Pelangi

Hai, gadis mudaku yang anggun. Kau masih memberikan tempat untukku menyapamu bukan? Kuharap masih. Karena kau pun tak pernah ku pindahkan dari sini. Singgahsana hati, dinda!. Jika kau membaca surat ini, mungkin aku telah tiada di dunia yang indah ini. Aku telah bebas dari segala macam gelap yang sering kuhadapi dan selalu aku keluhkan dulu kepadamu. Tapi kau benar – benar pelangiku, Putri. Pelangi yang memberi secercah warna – warna bias usai hujan turun. Kau yang mengubah kelabu hidupku menjadi lebih berwarna. Terima kasih Putri. Kau pasti bertanya – tanya apa maksudku menulis surat ini untukmu. Ini adalah salah satu dari 7 surat yang kutulis untuk menyampaikan apa yang belum sempat aku sampaikan saat aku masih diberikan anugerah udara dan kemegahan kebebasan yang sempurna. Kau yang kutuju pertama kali, Putri! Sedikit kuceritakan agar kau mengerti. Setelah lulus SMP saat itu aku kembali menemukan gelapku terlebih saat kenyataan kita harus berpisah. Aku harus pergi ke Makasar bersama keluargaku dan hidup disana tanpa kau sebagai sandaran warnaku lagi, Putri. Aku benar – benar kacau. Pertengkaran orang tuaku di rumah semakin hari semakin menjadi. Belum lagi beberapa bulan kemudia perusahaan ayahku dihadapkan masalah dan kemudian perlahan bangkrut. Sekolahku terbengkalai, Put. Aku tak tega melihat ibuku menjadi gila akibat kebangkrutan ayahku itu. Belum lagi kelakuan kakak laki – lakiku satu – satunya yang selalu pulang malam dan membawa gadis - gadisnya kerumah. Aku tak tahan, Put! Aku merasa dunia ini semakin kelam, mencekam, memaksaku hendak pergi! Aku ingin berlari, tapi apa daya? Suatu ketika, salah satu temanku menawarkanku sebuah benda, Put! Sebuah benda yang tak kukenal bentuknya, namanya pun asing bagiku. Tapi temanku membujukku mengonsumsi benda tersebut. Katanya mampu meredakan semua permasalahan kehidupan. Tanpa berpikir panjang, aku akhirnya mencobanya, meski aku tak pernah tahu benda apa itu. Sekali kucoba, dan ternyata benar! Aku menjadi tenang dan damai. Aku bagaikan terbang di langit senja ketika angin mencoba membuaiku menikmati hidup. Tapi aku tak menyangka, benda tersebut membuatku ketergantungan setiap harinya. Sehingga aku berusaha terus mencarinya walau mengorbankan harta orang tuaku yang tersisa dirumah untuk ditukarkan dengan benda tersebut. Efeknya benar – benar membuai, Put! Tapi semakin hari aku tak kuat menahan sakit luar biasa yang menyerangku jika sehari saja aku tak mengonsumsi benda tersebut. BENDA NERAKA! Rupanya dia membunuhku secara perlahan, Put! Aku kadang merasa mati rasa saat benda tersebut menggiggiti seluruh system di dalam tubuhku, sehingga benda – benda tajam seperti pisau pun tak terasa sakit saat aku menggores – goreskannya ke lenganku. Bahkan saat sakitnya memuncak, tak sadar aku menggigit jari – jari tanganku hingga berdarah agar meredakan sakitnya, Put! Menyiksa, sangat menyiksa. Kadang aku bercermin dan melihat keadaanku. Tak layak lagi. Sungguh tak layak lagi untuk hidup, Put! Maka itu, aku memilih menyudahi semua ini. Aku bahkan tak berpikir lagi tentang keadaan ibuku di yang sedang gila dirumah, ayahku yang masih depresi akibat bangkrut dan kakak laki-lakiku itu yang dengan kelakuannya yang bejat. Namun sebelum aku melahap semua benda – benda tersebut sekaligus, surat – surat ini akan ku sampaikan kepada 7 warna yang sempat mewarnai hidupku dulu. Salah satunya kau Putri. Warna jingga yang indah di sisi kehidupanku yang kelam. Yang enggan berhenti mewarnai kanvas putihku dulu. Kau terkenang di sini, Put! Di hati. Jangan kau sia – siakan air matamu itu membasahi suratku ini. Karena kau jingga pelangi yang sempurna dan tak layak menangis untuk gemuruh kelam semacamku. Terimakasih Putri. Dan maaf jika inilah akhir jalan pilihanku. Selamat tinggal. Semoga kita bertemu di Surga bersama warnamu yang masih terang di suatu singgahsana… Salam Gemuruh Kelammu *karangan fiksi*

penghianat masa

Pernah aku mengenal cinta belum lama ini. Memang indah, tapi hanya sekejap, lalu fana. semuanya hilang, menyakitkan, dan kusebut penghianatan. namun itulah adanya. dan sampai kini, hati pun bersembunyi di balik jeruji keikhlasan. entah untuk berapa lama bertahan. karena yang ku tahu, Tuhan belum mengungkap kebenarannya, sandiwara hidup masih terus berjalan. Masa - masa yang terlewati menyisakan penyesalan, dan kucilan dari orang - orang terdekat. mereka menertawaiku. sungguh malu, dan sangat malu. aku bercermin, sepekan berlalu menjadi gila akalku. tak sentuh santapan sedikitpun. hanya dahaga yang tak tertahankan. aku menjadi diam, sunyi, seribu bahasa. kebahagiaan terenggut oleh napas yang belum kunikmati kesejukkannya. Dia, Dia pergi begitu saja. dan tinggalkan aku membuih tanpa nuraninya yang memang sejak awal ku ragukan. entah apa maksudnya? benarkah selama ini kepalsuan atas kesungguhannya? Mungkin aku bodoh. buaianku menjadi tak terarah. Lagi - lagi dia, yang menarikku lalu menjatuhkan. tahtaku tak diawan lagi, sempat itu! budak hati adalah kecaman yang diberikan oleh alam. Hang Tuah pun kurasa menertawakan hal yang aku lakukan. tapi apa pedulinya? empat pekan berlalu kita bersama dulu, tak cukup membuktikan bahwa aku cinta? dusta yang ada tak cukup membuktikan kasih? lalu dimana perannya? mengapa selalu aku yang bersalah dan harus mengalah? Tuhan, dosa ku menjadi lautan. aku sempat berpaling dan justru menyetiakan orang tersebut. Kurasa aku khilaf, Tuhan! itu hanya sebagian kecil dari rintang yang seharusnya dapat ku atasi tanpa terjerumus di dalamnya. Pertama bagiku adalah luka lama. DIA, DIA ! hilangkan asaku terhadapnya. karena DIA bagiku PENGHIANAT MASA. maaf belum terhantar. maaf bukan apa - apa. karena kau sempat membuat sepekan ku menjadi NERAKA DUNIA

Mencari Alasan

Semalam ada yang berbeda, entah apa itu. namun ibu berkata "Perbedaanmu, mengkhawatirkanku, Nak!". lalu sejenak aku terhening, mengingat apa yang sedang kucari alasannya. mengapa aku begini? Semilir angin pagi menambah sengit pertarungan batin, hamparan debu menyibakkan kesunyian mata, dan sinarnya sang rembulan menyilaukan ketenangan pandangan. aku tertatih, entah karena apa. "Apakah aku sedang berbeda?" selayaknya manusia lainnya, mungkin inilah titik puncak perbedaan yang kuhadapi. kadang aku berdiri di kerumunan orang - orang yang sedang duduk atau aku berbaring di tengah kerumunan orang - orang sedang berbaris berjalan. dan aku mencari alasan. sebab yang tak kuketahui adanya. aku harus apa? aku harus bagaimana? alasan apa lagi? dan sebab itu, aku merangkak mencari uluran tangan. bukan karena belas kasihan, namun keikhlasan yang menampakkan kesungguhan memperdulikanku. Mataku tak lagi sejernih masa dahulu. aku hilang, lenyap, dan hampir tenggelam. lagi, lagi aku mencari alasan. bukan karena kesaksianku terhadap mereka. namun alasan kali ini, aku berpaling terhadap kefanaan hari.

Aku Ingat, selalu ingat

Aku ingat saat matamu menatapku dengan tajam dan berciri khas.
aku ingat saat senyummu mulai tampak bersimpul dalam  paras
aku ingat, saat suaramu mulai terdengar memanggilku selaras
aku ingat, saat ingat.

terlalu berlebihan memang jika aku masih mengingatmu hingga saat ini. namun memang hanya kau yang pernah menorehkan kisah manis dan pahit dalam sekejap, sesaat.
aku mengenalmu secara kebetulan. yaa menurutmu dan menurutku perkenalan kita secara kebetulan. satu hobby dalam seni membuat alur kita seiring berjalan bersama. beberapa even yang mempertemukan kita bersama membuat benih - benih asa timbul didalamnya. aku tidak pernah memungkiri, dan aku percaya sesuatu hal telah digariskan Allah secara sempurna. sebagai manusia biasa, aku hanya mengikuti jalan yang memang aku rasakan sedang bahagia bahagianya. bahkan tentang fana pun belum terpikirkan saat itu karena terlalu terlenanya.
Aku selalu bersyukur kepada Allah, karena cepat dibangunkan oleh mimpi - mimpi yang belum saatnya. aku segera diberi kenyataan yang sesungguhnya. semua membuatku dewasa. kisah kita membuat aku mengerti. kau membuat aku belajar tentang apa itu cinta, tentang bagaimana untuk tidak menggenggam pasir terlalu erat. untuk tidak memiliki sesuatu dengan hak secara penuh. untuk menyadari semua akan fana, kembali pada-Nya.
namun jangan salahkan aku, jika aku masih ingat, dan selalu ingat. meskipun bukan sosok lain sebagai penggantimu kini, namun aku berusaha mencari hal lain agar aku selalu mengingat tentang kehakikian Allah swt. cinta semusim ini menyadarkanku. aku ingat, selalu ingat. thanks for Allah, thanks for Mom, thanks for you.

Another Templates

My Cat

My Cat