Dahi Hitam Menunjukkan Niat Tidak Ikhlas?



Kita sering melihat seorang muslim yang memiliki tanda hitam di dahi, kita pun bertanya-tanya bagaimanakah pandangan Islam yang sebenarnya tentang adanya tanda hitam di dahi seorang mukmin. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah tandanya seorang mukmin, bahkan ada yang mengatakan bahwa itulah penafsiran dalam sebuah ayat dalam surat al-Fath:

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).

Lalu bagaimanakah yang benar mendudukkan permasalahan ini ? Simaklah tanya jawab berikut dengan Ust. Aris Munandar yang kami nukil di web pribadi beliau

Tanya: Terkait dengan dahi yang hitam karena bekas sujud, bagaimana dengan hadits yang mengatakan bahwa sujud yang benar adalah harus ditekan?

081 392685687

Jawab:

Nabi pernah mengajari tata cara shalat yang benar kepada seseorang. Di antara yang beliau ajarkan adalah beliau bersabda,

إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ
“Jika engkau sujud maka berilah tekanan pada sujudmu” (HR Abu Daud no 859 dari Rifa’ah bin Rafi’ dan dinilai hasan oleh al Albani).

عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
Dari Abu Humaid as Sa’idi, sesungguhnya Nabi jika bersujud beliau menekankan hidung dan dahi beliau di tempat sujud, menjauhkan kedua tangannya dari dua lambungnya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan bahunya (HR Tirmidzi no 270. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan shahih oleh Tirmidzi dan dinilai shahih oleh al Albani).

Tentang makna dua hadits di atas al Albani mengatakan,

“Hadits di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud meletakkan dahi ketika sujud tidak cukup dengan hanya menyentuhkan dahi di tempat sujud. Yang benar ada kewajiban untuk memberikan beban kepala dan leher pada tempat sujud sehingga dahi itu dalam posisi yang kokoh di tempat sujud. Artinya jika orang yang shalat tersebut bersujud di atas kapas, rumbut atau benda yang diisi kapas atau rumput maka orang tersebut wajib menekankan kepalanya sehingga benda yang menjadi tempat sujud itu tertekan karenanya dan seandainya tangan orang tersebut diletakkan di bawah benda tadi maka akan ada bekas di tangan. Jika tata cara sujud semacam ini tidak dilakukan maka sujud tersebut adalah sujud yang tidak sah menurut pendapat yang paling kuat dalam pandangan para ulama bermazhab syafii.

Imam Haramain berkata, “Menurutku sujud itu cukup dengan menempelkan kepala dan tidak perlu ditekankan bagaimana pun bentuk tempat sujud”.

An Nawawi (3/423) berkata, “Yang sesuai dengan mazhab Syafii adalah pendapat pertama (yaitu kepala harus ditekankan ketika bersujud). Inilah pendapat yang dipilih oleh syeikh Abu Muhammad al Juwaini, penulis kitab al Tatimmah dan penulis kitab al Tahdzib”.

Kukatakan bahwa harus ditekan, itulah pendapat yang benar karena memilih pendapat Imam Haramain di atas berarti tidak mempraktekkan menekan yang terdapat dalam hadits. Tentu hal ini tidak diperkenankan sebagaiman bisa kita ketahui dengan jelas” (Ashlu Shifat Shalat Nabi 2732-733).
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan menekankan dahi dan hidung ketika bersujud adalah kebalikan dari sekedar hanya menempelkan. Oleh karena itu mempraktekkan hal ini tidaklah menyebabkan timbulnya noda hitam di dahi apalagi noda hitam di hidung.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khulafaur rasyidin adalah orang yang paling paham dan menerapkan ketentuan in dalam shalat yang mereka lakukan. Namun fakta membuktikan bahwa tidak ada sama sekali noda hitam di dahi-dahi mereka sebagaimana yang telah kita bahas di majalah ini di edisi yang lewat. Wallahu a’lam.

Tanya:
“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”
0281764xxxx

Jawab:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).

Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.
Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyuan.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.
Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).

عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?
Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).
Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).
Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.
Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.
Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.
Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,

يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Cirri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).

Oleh karena itu, ketika kita sujud hendaknya proporsonal jangan terlalu berlebih-lebihan sehingga hampir seperti orang yang telungkup. Tindakan inilah yang sering menjadi sebab timbulnya bekas hitam di dahi..

Rahasia dibalik hati wanita

Siapa yang tahu isi hati seseorang selain dirinya sendiri dan Tuhan..? Disini kita bicarakan soal hati wanita yang hakikatnya adalah lembut. setomboy - tomboynya perilaku seorang wanita tentu saja ada hal dalam dirinya dimana sesuatu itu sangat melekat dalam kelembutan seorang wanita. Itulah Hatinya.
seorang wanita itu memang sosok yang sangat istimewa dari segalanya. dilihat dari aspek manapun.
bicara soal hati, memang sensitif bagi wanita. dia tak banyak menggunakan akal, namun hati lah yang menjadi pertimbangannya dalam melakukan sesuatu. dia yang mudah iba akan sesuatu dan luluh dengan apapun yang menurutnya indah dan istimewa. maka, jagalah perasaannya. sebagaimanapun dia berperilaku seperti laki - laki tetap saja dia memiki sisi kelembutannya yang dia tak tampakkan. itulah wanita dengan rahasia hatinya.

Cinta Pertama (ARKIAS Artikel-Kiasan)

Gadis bercita seangkara ini, belum hilang peta hidupnya. Ia masih beramai tawa memercah derita. laksana bintang - bintang yang silih berganti sinarnya pada malam. sampai selingkar tak hingga rembulan justru sembunyi karena terasing. " Mungkin itu hanya rasa, bukan kesungguhannya ", Ia berkalam.

Di suatu petang, sesosok lawan hati mengelak takdir jiwa sang gadis. mengulur bagai kawan pelipur lara. sesama suka, sepaham cerita, akhir titik pelita. sang gadis pun tak sampai hati untuk sejujur berkalam. " Sungguh, dilema kini menerpa ! ", kalimat senyap dari sorot matanya.

Cinta pertama. walau terus berlari, tapi tak mampu ingkari hati. " Jangan dustai realita ! ", mungkin sang mentari turut memerhati. kini di tiap malam dalam tidurnya, sang gadis berhampa. ingin bisu bagai asa berbuih. kisah kasih kera kecil yang belum nyata kini tiba pada sandiwara hidupnya.

6 kias

Berikan aku alunan dentingan piano itu
maka sungguh, itu adalah sebaik cinta dalam hidup

karena apa yang telah berpijak
adalah langkah yang selama ini kita usahakan

adakala peran seorang musuh lebih penting dibanding kawan
karena manakala dunia berbalik, mereka pun ikut oleh masa

sebuah besi diibaratkan hati wanita,
keras namun mudah berkarat jika didiamkan

perlahan satu keputusan yang kau tuah
akan menjadi jalan dimana kelak kau ada

yang terbaik adalah mencoba dibanding meragu
karena mencoba memang sakit, tapi meragu lebih menyakiti

Cinta Si Gadis Penghayal

Termenung di sepinya malam
bernyanyi kecil sambil menghibur diri
berharap cintanya tak ingin kelam
karena kali kedua rasakan kasih suci

biarkan kabut menemani
elok rupa malang ini mendalu
sampai keheningan hilang tak kembali
agar jua tak berlarut penuh haru

kadang tangis menerpa tak wujud harap
tapi senyum kian tersipu pada hatinya
kala lintasi sosok pangeran gagah langkah berderap
di balik kata ada angin menyapa

selalu di permadani
cintanya tergeletak hampir hilang
hingga kini tetap menanti
balas cinta laksana emas berdulang

kapankah kekal abadi
menyeru pada nasib ini cinta gadis penghayal
biar suka penuh hakiki
diiringi sekejap rintik hujan yang tak kekal

Cahaya Cinta

Bila mampu akan terungkap semua
karena rasa sulit terbungkam kalam
Hanya sakit pada ini hati karena luka
tak sampailah cinta dibalik semu diam

Pergi...
kuingin dia pergi dari separuh hatiku
dan jangan kembali
demi secercah bintang di malam itu

kau tak tahu?
tiap sunyi hanya ada bayang
harap hampa darimu
yang mungkin anggap biar saja ku hilang

sadari bahwa itu memang tak mungkin
tapi tak ubah sirna jua
jadi, bagaimana dengan angin?
mungkinkah ku terbang bersamanya

hanya tertinggal cahaya musnahkan rasa..
tak akan mungkin, biar cinta dalam hati

Cinta adalah Seni, Seni itu sastra.

Cinta adalah Seni, Seni itu sastra.
mengapa saya sebut demikian ? coba izinkan logika anda berfikir dan memaknai hakikat Cinta, Seni, dan Sastra. semuanya dapat terelevansikan dalam sebuah konsep berfikir yang bijak.
Cinta adalah Emosi dari sebuah perasaan yang berpihak pada ketertarikan pribadi untuk sesuatu.Seni adalah suatu perefleksian fikiran manusia untuk menjadi sesuatu yang artistik.sedangkan Sastra dapat diartikan menjadi sebuah kata atau tulisan yang merujuk pada ajaran bermakna keindahan tertentu.Nah, sekarang coba hening sejenak dan gunakan akal anda !dimana relevansinya ?disini, saya menguraikan sedikit kisah seseorang yang dapat menjadi sample dalam konsep relevansi Seni, Cinta dan Sastra ini. Dia adalah seorang gadis muda yang memang tidak begitu tertarik untuk memikirkan yang namanya Cinta. sejak dia remaja, dia sudah dihadapkan oleh teman - temannya yang memiliki banyak kisah tentang Cinta itu. dari yang bahagia, dilema, bahkan sampai yang mengalami keterpurukan. tapi dia tetap tidak tergoyah untuk berani merasakannya. dia hanya melihat, mengamati, dan mengambil makna dibalik kisah - kisah teman - temannya tersebut. Namun, sesuatu bisa berubah. dia mulai menjajaki masa yang belum pernah dialaminya tersebut. yaitu sebut saja Masa Jatuh Cinta. dia mengalami hal - hal yang belum pernah terjadi di hidupnya. dia mulai mengagumi seorang pria yang menurutnya pantas dikagumi. tapi dia tak berani memilih jalan seperti teman - temannya. yaitu setelah jatuh cinta melakukan pendekatan dan lalu pacaran, lalu putus dan bermusuhan. Tidak untuk dia ! dengan perasaannya tersebut dia terus berfikir dan menggunakan akal dan memadukannya dengan perasaannya saat itu. Mustahil memang!
namun setelah cukup lama dia mengalami hal tersebut, dia temukan alternatif lain. yaitu dunia seni. dia mencoba mengaplikasikan perasaaannya dengan karya - karya yang menurutnya mampu meluapkan perasaaannya yang menggebu - gebu. dengan melakukan kegiatan - kegiatan yang bermafaat dan menghasilkan sesuatu. mulailah dia berkarya. dia buat sebuah buku karena memang dia pandai merangkai kata - kata yang padan dan runtun. sehingga jadilah sebuah karya sastra yang indah. mari kita simpulkan sekarang, bahwa digambarkan diatas gadis tersebut tidak melakukan hal yang ceroboh dan ambisius. melainkan dia mencari alternatif lain untuk menenangkan perasaannya. dia bahkan berkarya dan melakukan hal yang bermanfaat berdasarkan perasaannya tersebut. Itulah Cinta. Mampu berbuah sebuah Seni. dan kadang menghasilkan Karya Sastra.Maka, Cinta adalah Seni dan Seni itu Sastra.

Cinta Sejati Dalam Islam

Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.

Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?

Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.

Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).

Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.

Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?

Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.

Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.

Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.

Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?

Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)

Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.

Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?

Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره

“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:

كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ

Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).

Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.

Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102

“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)

Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?

Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.

Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?

Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه

“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadits lain beliau bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.

“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67

“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.

Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.

Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…

Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.

***

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com

Footnote:

1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

Tulisan Tanpa Pena

Indahnya laksana surya
luas bertanam bunga kasih sayang
walau belum saatnya
tempat itu kudatangi untuk tenang

selalu terpejam mata ini
kala ingin kembali pada cerita duka itu
yang kian mewarnai
cinta yang memang mungkin haru

khayal...
kecaman orang berpengalaman telah berkalam
hingga terngiang sandarku diatas bantal
hinggap sana sang serangga pun diam

dia tahu akan goresan putih
yang takkan hitam tanpa pena
tulisan itu membentuk kasih
sandiwara ananda dalam dunia

aku ini menangis sedu
bukan lekas karena luka
tapi dilema ang menyelimutiku
sepanjang usia hingga kini ada

Cahaya Surga

kutanyakan embun pagi menusuk sulbi
genderang mentari nan kian memperhatikan
gerak - gerik hamba sahayaMu ini
nan terus merantau pada bakti amalan

bertahta dalam bumi suci pusaka
lukiskan garis duka berduri
tak sedikitpun berbungakan suka
hanya guna takutkan siksa mati

langit menatap angin berbisik
riakkan air saat laut pasang
buatku renungkan dosa mengusik
selama abdi kian ada di awang

aku berdiri dalam kesirnaan senja sunyi
hidup tak arah bertentu tuju
merajuk diri dan berkalam dalam hati
walau wajah mengharu biru

Tuahkanlah, Sang Sempurnaku
buaikanku kian berarak
hadirlah dan beri naunganMu
bak insan tatap pertama nan lintas di benak

tangis isak beralunkan nada
bersujud dalam doa penuh harap
Tunjukkanlah, wahai Sang Pencipta
arah mimpi dalam langkah berderap

lirihkan cinta dunia nan hakiki
kan abadi tanpa sua
kawankan ku pada insan pemberi
menuju sinar cahaya surga

memekik sembahku dalam syair
melantun ayat - ayat kalamMu
renungkan hening segeming air
pula berisyarat berlagu.

Bulan Pada Siang

Ada gadis penghayal memejamkan matanya
bersandiwara seakan ria dengan merpati
gerimis kala matahari kiranya tak berkata
bertanam hati biarlah disini

sekejap hilang bahagia itu
manisnya tinggal menuai api
musnahkan lukis sahabat lawasku
merintih duka laksana duri

air itu jatuh
walau tak sempat ku hambat
mungkin nasib bukan musuh
karena itu ku berkalam tersendat

Pria itu tak memihak
pandangi gerik bagai bulan di siang
aku tahu itu tak logis, tapi tersentak
ini sinar untuk cerahkan kawanan riang

Piano Untuk Cinta

Tak seorang pun berani menyentuhnya
karena sempurna telah tampak padanya
hitamnya meneduhkan setiap mata yang enggan kesilauan surya
putihnya suci laksana ketenangan bila memandangnya

belum nada - nada itu pernah terdengar
tak terlihat pianispun menghampiri
meski hanya duduk di atas kayu cantik jadi kursi
entah, mengapa mereka melakukannya

tapi di suatu senja kala hujan tiba
seosok pujangga tanpa harta
manaruh daya untuk sebuah melodi indah
terlantunkan begitu harmoni

dia lentikkan jari - jari itu menjadi keindahan
dan seakan memanggil semua mata untuk terpana
sejenak dia pejamkan mata seraya berkalam
''ku antarkan laguku untuk cinta"

hingga seraya dia hentikan permainannya
lalu mencari setiap sisi sekelilingnya entah untuk sesuatu
tapi dengan tenang dia tundukkan kepala lalu bicara
"kemanapun ku hantarkan melodi ini, demi cinta kulakukan penuh kasih"

Ilmu Bumi

Ilmu Bumi adalah sebuah pemahaman tentang cara pemikiran seseorang di dalam hidupnya. cara penerapan ilmu bumi yaitu mengubah alam bawah sadar kita tentang perkiraan, kewaspadaan, kecemasan, keburukan, dan semua kenegatifan yang ada dengan sesuatu yang positif. karena, di dalam konsep ilmu bumi ini apa yang ada di dalam fikiran seseorang adalah suatu hal yang akan terwujud nantinya di didalam kehidupannya tersebut.

Misalkan, ada seorang tukang Ojek yang pagi sekali berangkat dari rumahnya untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa. namun hari itu, fikirannya sedang suntuk maka di dalam fikirannya dia berkata "aaaahhh,, panas sekali hari ini. paling hari ini sedikit mungkin tarikan ku".
disana sudah jelas bahwa si tukang ojek tersebut berkata sesuatu di alam bawah sadarnya, yang secara tidak langsung itu merupakan Doa. maka kewaspadaan fikirannya tersebut terjadi akhirnya di hari itu. tak banyak penumpang yang Ia dapatkan.

maka, apa yang kita fikirkan adalah apa yang akan terjadi dalam hidup kita. mulailah berfikir yang postif, dan hapuskan semua kecemasan yang belum pasti dalam fikiran kita.
{Perbaiki fikiranmu, dan bahagiakan hidupmu}

Another Templates

My Cat

My Cat