kutanyakan embun pagi menusuk sulbi
genderang mentari nan kian memperhatikan
gerak - gerik hamba sahayaMu ini
nan terus merantau pada bakti amalan
bertahta dalam bumi suci pusaka
lukiskan garis duka berduri
tak sedikitpun berbungakan suka
hanya guna takutkan siksa mati
langit menatap angin berbisik
riakkan air saat laut pasang
buatku renungkan dosa mengusik
selama abdi kian ada di awang
aku berdiri dalam kesirnaan senja sunyi
hidup tak arah bertentu tuju
merajuk diri dan berkalam dalam hati
walau wajah mengharu biru
Tuahkanlah, Sang Sempurnaku
buaikanku kian berarak
hadirlah dan beri naunganMu
bak insan tatap pertama nan lintas di benak
tangis isak beralunkan nada
bersujud dalam doa penuh harap
Tunjukkanlah, wahai Sang Pencipta
arah mimpi dalam langkah berderap
lirihkan cinta dunia nan hakiki
kan abadi tanpa sua
kawankan ku pada insan pemberi
menuju sinar cahaya surga
memekik sembahku dalam syair
melantun ayat - ayat kalamMu
renungkan hening segeming air
pula berisyarat berlagu.
genderang mentari nan kian memperhatikan
gerak - gerik hamba sahayaMu ini
nan terus merantau pada bakti amalan
bertahta dalam bumi suci pusaka
lukiskan garis duka berduri
tak sedikitpun berbungakan suka
hanya guna takutkan siksa mati
langit menatap angin berbisik
riakkan air saat laut pasang
buatku renungkan dosa mengusik
selama abdi kian ada di awang
aku berdiri dalam kesirnaan senja sunyi
hidup tak arah bertentu tuju
merajuk diri dan berkalam dalam hati
walau wajah mengharu biru
Tuahkanlah, Sang Sempurnaku
buaikanku kian berarak
hadirlah dan beri naunganMu
bak insan tatap pertama nan lintas di benak
tangis isak beralunkan nada
bersujud dalam doa penuh harap
Tunjukkanlah, wahai Sang Pencipta
arah mimpi dalam langkah berderap
lirihkan cinta dunia nan hakiki
kan abadi tanpa sua
kawankan ku pada insan pemberi
menuju sinar cahaya surga
memekik sembahku dalam syair
melantun ayat - ayat kalamMu
renungkan hening segeming air
pula berisyarat berlagu.
by Shachy Hubb Albirr
Sabtu, 11 Juni 2011