Gadis bercita seangkara ini, belum hilang peta hidupnya. Ia masih beramai tawa memercah derita. laksana bintang - bintang yang silih berganti sinarnya pada malam. sampai selingkar tak hingga rembulan justru sembunyi karena terasing. " Mungkin itu hanya rasa, bukan kesungguhannya ", Ia berkalam.
Di suatu petang, sesosok lawan hati mengelak takdir jiwa sang gadis. mengulur bagai kawan pelipur lara. sesama suka, sepaham cerita, akhir titik pelita. sang gadis pun tak sampai hati untuk sejujur berkalam. " Sungguh, dilema kini menerpa ! ", kalimat senyap dari sorot matanya.
Cinta pertama. walau terus berlari, tapi tak mampu ingkari hati. " Jangan dustai realita ! ", mungkin sang mentari turut memerhati. kini di tiap malam dalam tidurnya, sang gadis berhampa. ingin bisu bagai asa berbuih. kisah kasih kera kecil yang belum nyata kini tiba pada sandiwara hidupnya.
Di suatu petang, sesosok lawan hati mengelak takdir jiwa sang gadis. mengulur bagai kawan pelipur lara. sesama suka, sepaham cerita, akhir titik pelita. sang gadis pun tak sampai hati untuk sejujur berkalam. " Sungguh, dilema kini menerpa ! ", kalimat senyap dari sorot matanya.
Cinta pertama. walau terus berlari, tapi tak mampu ingkari hati. " Jangan dustai realita ! ", mungkin sang mentari turut memerhati. kini di tiap malam dalam tidurnya, sang gadis berhampa. ingin bisu bagai asa berbuih. kisah kasih kera kecil yang belum nyata kini tiba pada sandiwara hidupnya.
by Shachy Hubb Albirr
Rabu, 27 Juli 2011