Mengapa Aku di Tengah Mereka?

Aku harus berdiri disini dengan terpaan yang begitu berat. Ini bukan masalah mereka, melainkan diriku sendiri. Sebenarnya tak ada yang salah dalam keadaan aku bersama mereka, namun perasaan mengusik seringkali datang sangat mengusik. Lagi – lagi dalam posisi kekanak-kanakan aku ingin keluar dari mereka. Lingkup yang sebenarnya aku nyamani, walaupun setengah hati. Dahulu aku datang sendiri, hingga masing – masing dari kami mulai mendekat dan membentuk satu bulatan. Lalu ‘kami’ berubah menjadi ‘mereka’ setelah semuanya membentuk menjadi segitiga dan itu bermula saat aku merasa aku di tengah mereka. Dan pada akhirnya kini bentuk menjadi persegi dengan titik sudut sendiri – sendiri dan ‘mereka’ kembali menjadi ‘aku’ dan ‘dia’. Tak ada yang bisa dituntut dalam permasalahan ini. Keadaan yang perlahan mengubah semuanya. Yaa datang sendiri, kembali pulang pun sendiri. Cuplikan kisah diatas adalah kisah sekelompok pertemanan yang mulai hilang keeratannya. Entah karena apa, namun genggaman erat tangan mulai tak lagi bergandengan. Mereka jalan sendiri sendiri. Mungkin kisah seperti itu seringkali kita temukan di lingkup remaja khususnya. Seringkali, dalam kelompok sebaya, kecenderungan untuk tetap menyatu satu sama lain sangatlah kuat. Dikarenakan komponen dari pembentukan kualitas diri dan pencarian jati diri salah satunya ditemukan saat kita bermain dengan kelompok sebaya. Namun, terkadang perasaan terpisah ataupun terasingi dari suatu kelompok juga menyerang para remaja. Apalagi dalam suatu kelompok sebaya yang jumlahnya ganjil, kadang ada salah satu dari mereka yang tidak nyaman dengan keganjilan tersebut. Hingga dia berkata, “Mengapa aku di tengah mereka?”. Perasaan – perasaan seperti itu justru membuat remaja ingin keluar dari perkumpulan kelompok sebaya dan mecari alternatif lain untuk membuat kenyamanan sendiri. Sebenarnya tak ada yang salah dalam hal ini, hanya saja tiap – tiap remaja yang mengalami hal tersebut pasti memiliki cara yang berbeda dala mengatasinya. “Keganjilan memanglah sulit, terlebih saat mereka asik dengan dunianya, lalu aku masuk dengan membawa duniaku sendiri. Ah, tak ada yang peduli!”. Begitulah mungkin kata hati dari mereka (remaja yang sensitif akan keganjilan). Namun, seharusnya ada perspektif lain yang dapat kita lihat dari sebuah keganjilan tersebut. Cara pandang yang lebih positif dan berpengaruh besar dalam membentuk kualitas diri remaja. Yaitu, dengan memahami bahwa sebuah keganjilan adalah suatu keadaan membentuk kedewasaan di tengah dua yang sedang bercengkerama maupun yang berselisih. Bagaimana kita memposisikan diri dengan keadaan – keadaan tersebut. Bukan merasa terusik karena berpikir tak ada celah bagi dia yang merasakan keganjilan diantara mereka. Hidup adakalanya kita bersama, namun pada dasarnya kita akan kembali sendiri. Tak perlu takut untuk keluar dari mereka, jika celah memang sulit untuk ditemukan. Karena akan terbuktu siapa yang akan mendunia dan siapa yang akan terpaku itu itu saja. Jadi, “Mengapa aku di tengah mereka? Karena aku belajar dari keadaan yang menyulitkanku, dari rapatnya mereka bersama dan untuk aku lebih mengikhlaskan sesuatu. Karena kenyamanan tak bisa dibeli”

Manusia Setengah Senja

(cuplikan) Manusia memang tak pernah habisnya untuk mengibaratkan dirinya seperti sesuatu. Dengan peristiwa – peristiwa yang terjadi di sekitarnya, menjadi keharusan tersendiri untuk mereka mengabadikannya dalam bentuk apapun. Tidak tanggung-tanggung, hal bodoh akan mereka lakukan demi terwujudnya apa yang mereka inginkan. Padahal mereka tidak pernah berpikir, bahwa akibatnya akan meluas ke hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi, mereka tetap batu, keras, dan kukuh dengan keputusannya. Berbeda dengan manusia lainnya, kini dia masih menanti matahari terbenam dan mengharap kedatangan bulan dengan segera. Namun, seiring itu tak ada yang dia lakukan. Terkadang, dengan tetap memejam mata dia mengkhayalkan sesuatu yang jauh di dalam pandang, terus memuja fatamorgana yang ada dalam bayangnya. Kadang lagi, dia berceloteh tidak jelas apa makna dari bicaranya, dia terus berceloteh, hingga mungkin yang mendengarkannya menjadi bosan dan isi celotehannya tidak lagi menjadi mutiara bagi manusia – manusia lainnya. ...............

Another Templates

My Cat

My Cat