Mencari Alasan

Semalam ada yang berbeda, entah apa itu. namun ibu berkata "Perbedaanmu, mengkhawatirkanku, Nak!". lalu sejenak aku terhening, mengingat apa yang sedang kucari alasannya. mengapa aku begini? Semilir angin pagi menambah sengit pertarungan batin, hamparan debu menyibakkan kesunyian mata, dan sinarnya sang rembulan menyilaukan ketenangan pandangan. aku tertatih, entah karena apa. "Apakah aku sedang berbeda?" selayaknya manusia lainnya, mungkin inilah titik puncak perbedaan yang kuhadapi. kadang aku berdiri di kerumunan orang - orang yang sedang duduk atau aku berbaring di tengah kerumunan orang - orang sedang berbaris berjalan. dan aku mencari alasan. sebab yang tak kuketahui adanya. aku harus apa? aku harus bagaimana? alasan apa lagi? dan sebab itu, aku merangkak mencari uluran tangan. bukan karena belas kasihan, namun keikhlasan yang menampakkan kesungguhan memperdulikanku. Mataku tak lagi sejernih masa dahulu. aku hilang, lenyap, dan hampir tenggelam. lagi, lagi aku mencari alasan. bukan karena kesaksianku terhadap mereka. namun alasan kali ini, aku berpaling terhadap kefanaan hari.

Aku Ingat, selalu ingat

Aku ingat saat matamu menatapku dengan tajam dan berciri khas.
aku ingat saat senyummu mulai tampak bersimpul dalam  paras
aku ingat, saat suaramu mulai terdengar memanggilku selaras
aku ingat, saat ingat.

terlalu berlebihan memang jika aku masih mengingatmu hingga saat ini. namun memang hanya kau yang pernah menorehkan kisah manis dan pahit dalam sekejap, sesaat.
aku mengenalmu secara kebetulan. yaa menurutmu dan menurutku perkenalan kita secara kebetulan. satu hobby dalam seni membuat alur kita seiring berjalan bersama. beberapa even yang mempertemukan kita bersama membuat benih - benih asa timbul didalamnya. aku tidak pernah memungkiri, dan aku percaya sesuatu hal telah digariskan Allah secara sempurna. sebagai manusia biasa, aku hanya mengikuti jalan yang memang aku rasakan sedang bahagia bahagianya. bahkan tentang fana pun belum terpikirkan saat itu karena terlalu terlenanya.
Aku selalu bersyukur kepada Allah, karena cepat dibangunkan oleh mimpi - mimpi yang belum saatnya. aku segera diberi kenyataan yang sesungguhnya. semua membuatku dewasa. kisah kita membuat aku mengerti. kau membuat aku belajar tentang apa itu cinta, tentang bagaimana untuk tidak menggenggam pasir terlalu erat. untuk tidak memiliki sesuatu dengan hak secara penuh. untuk menyadari semua akan fana, kembali pada-Nya.
namun jangan salahkan aku, jika aku masih ingat, dan selalu ingat. meskipun bukan sosok lain sebagai penggantimu kini, namun aku berusaha mencari hal lain agar aku selalu mengingat tentang kehakikian Allah swt. cinta semusim ini menyadarkanku. aku ingat, selalu ingat. thanks for Allah, thanks for Mom, thanks for you.

Berbeda

kali ini ku yakin bukan cinta
kali ini ku yakin bukan kasih
kali ini ku yakin sesuatu
ku tegaskan, kau berbeda

maka akulah penjaga masa
maka akulah pembelai asa
maka panggilah aku
pengekal hati hakiki

dan kau ku hantarkan satu tanya
benarkah kau bersungguh?
karena bukan balas yang ada
jika dusta di balik gemuruh

lalu Tuhan, apa yang terjadi
terhadap bulan pada malam
terhadap surya pada petang
dan terhadap ku pada senja

sedang angkara tiba saat ini
aku terjerembab kenangan lalu
memaksa meniadakan nurani
dan tangis pun menjadi haru

Bersua Tanpa Suara

Dalam keheningan senja, mata menyambut asa
yang tak tampak sesegera mendekap
entah apakah itu cinta
ataukah hanya pelarian membentuk harap

dan lagi - lagi kau yang menyapa hati
di tiap sajak yang terhampar di kemayaan
dengan kata - kata seakan puja memuji
menyentuh dasar jiwa keindahan

ku perhatikan kala jarak tak sampai jauh
kita bersua, tanpa suara
lalu aku merunduk getir lewat gemuruh
ingin beranjak namun tak kuasa

ku kenal kau belum lama ini
seakan hadir di sengajakan Tuhan
dengan doa - doa yang telah kau beri
menarik rasa sesegera mungkin menjadi keluluhan

tak usahlah balas menghambat kelana
karena yang ku tahu cinta tak begini
biarlah sembunyi tangan - tangan kita
seolah tak menyaksikan apa yang terjadi

karena sua
tanpa suara
telah ciptakan
kasih yang mulia...

Surga Baru


Tidakkah rindu sampai menggebu
Mengingat asa belum berkalam
Sepatah kata mulai merayu
Dalam cahaya terangi malam

Dimana kesungguhannya?
Jikalau benar engkau beri
Bukan menghibur rajuk dalam lena
Cemasku mulai meniti

Singgahsana tak menetap
Bukan karena tuan, bukan hati
Namun senja permainkan petang menghadap
Jiwa bertanya akan surga ini

Berlalulah kau wahai kakanda
Pergi jauh sebelum buai mendalam
Wanita mulia di jauh sana
Mengenang masa dalam diam

Tak ingin belati menyayatmu
Kau pesona sang surya
Percayalah itu
Biarlah surgamu tak maksud untuk ini jiwa

Another Templates

My Cat

My Cat